Adaptasi dalam Pandemi, Gerakkan Milenial Bertransformasi Digital

Adelia Hasna Nabilla
6 min readOct 23, 2020

Latar Belakang

Menyebarnya COVID-19 atau yang sering disebut dengan istilah coronavirus, menjadi satu hal yang ramai diperbincangkan. Wabah COVID-19 ini, pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada tanggal 1 Desember 2019, dan telah ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020. Berdasarkan data yang disampaikan oleh WHO pada laman covid19.who.int, hingga 30 September 2020, lebih dari 33.502.430 kasus telah dilaporkan lebih dari 210 negara di dunia, mengakibatkan lebih dari 1.004.421 orang meninggal dunia.

Penyebaran coronavirus menimbulkan masalah yang cukup kompleks. Tidak hanya berdampak pada kesehatan melainkan juga pada bidang sosio-ekonomi secara global. Berdasarkan data pemerintah yang diumumkan pada laman covid.go.id pada tanggal 30 September 2020, Indonesia tercatat memiliki 287.008 kasus terkonfirmasi dan hingga saat ini masih terus bertambah.

Berbagai upaya dilakukan, mulai dari penetapan kebijakan baru, sistem baru, bahkan tatanan kehidupan baru. Namun, di sisi lain, masih banyak yang meremehkan keberadaan virus ini, bahkan menganggapnya sebagai hal biasa. Masyarakat keluar rumah tanpa menggunakan masker, bergerombol tanpa ada jarak, bahkan warung dan kafe tetap beroperasi seperti hari-hari normal. Kondisi ini bila terus-menerus berlangsung bagaimana mungkin pandemi ini akan segera berakhir?

Menteri Keuangan Negara Republik Indonesia, Sri Mulyani mengatakan bahwa ekonomi nasional resmi resesi pada kuartal III-2020. Hal itu menyusul revisi proyeksi yang dilakukan Kementerian Keuangan, menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia untuk tahun 2020 secara keseluruhan menjadi minus 1,7% sampai minus 0,6%. Pernyataan ini kontradiktif dengan keharusan untuk mengikuti protokol kesehatan, apalagi banyak pekerja yang terpaksa dirumahkan. Sehingga, masalah-masalah baru pun muncul dan semakin menghambat keberlangsungan hidup masyarakat dalam kondisi pandemi.

Salah satu bentuk penyesuaian baru terhadap pandemi COVID-19 adalah dengan tidak berada di kerumunan dan selalu menjaga jarak sesuai dengan protokol kesehatan yang dianjurkan. Pemerintah tak ada hentinya untuk mengkampanyekan kepada masyarakat untuk terus menjalankan protokol kesehatan. Namun demikian, manusia sebagai makhluk sosial selalu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Sehingga perlu diambil langkah-langkah yang bijak dalam mengurai kondisi pandemi tanpa harus ada yang dikalahkan dan terkalahkan.

Dari Globalisasi Menuju Era Digitalisasi

Mendunia sudah bukan lagi menjadi suatu hal yang asing. Bahkan kalau kita ingin tetap eksis, maka mengikuti arus globalisasi merupakan tuntutan bagi masyarakat. Seiring dengan berkembangnya teknologi, era globalisasi ini sedang mengalami perubahan besar, dan akan segera bertransformasi menuju era baru, yaitu revolusi industri 4.0 yang mengkolaborasikan teknologi cyber dan otomatisasi, sehingga kemajuan ini akan menambah nilai efisiensi pada suatu pekerjaan.

Adanya pandemi COVID-19 yang berdampingan dengan perkembangan dan masuknya revolusi industri 4.0 memberikan sebuah tantangan baru, yaitu pemanfaatan digitalisasi dalam kehidupan pandemi. Transformasi digital pada seluruh aspek sangat dibutuhkan. Mengapa demikian? Karena di saat kita harus melakukan segala aktivitas dengan jarak jauh, teknologi digital memberikan kemudahan yaitu lebih cepat dan efisien, sekaligus menjadi solusi atas pemutusan rantai penyebaran COVID-19.

Perubahan ini tidak mudah dilakukan secara cepat. Masyarakat Indonesia begitu banyak dan heterogen. Berbagai macam latar belakang membuat tiap individu memiliki perilaku dan cara pandang yang berbeda dalam menghadapi situasi pandemi. Kesenjangan sosial yang ada juga menghambat proses penyesuaian terhadap pandemi. Tugas masyarakat adalah bagaimana caranya agar kita dapat mengoptimalisasikan penggunaan teknologi secara maksimal, sedangkan angka kesenjangan di Indonesia masih sangat tinggi.

Kita tidak memungkiri bahwa masih banyak warga masyarakat yang harus tetap berada di luar rumah demi memenuhi kebutuhan hidup. Dengan risiko tinggi, mereka tetap menjalankan aktivitas kehidupan. Tidak sedikit di antara mereka yang rela mengambil sikap lebih baik terpapar virus daripada mati kelaparan. Di sinilah kita seharusnya bersikap bijaksana. Artinya apa pun yang kita lakukan, harus tetap berorientasi kepada kepentingan masyarakat bahkan negara (mengalahkan ego kita masing-masing).

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan di sejumlah wilayah bukanlah menghambat bahkan melarang warga masyarakat untuk beraktivitas. Namun mengupayakan semaksimal mungkin untuk memberikan ruang bagi mereka yang pekerjaannya masih belum bisa tergantikan oleh teknologi. Dengan demikian, aktivitas di luar tidak akan sepadat hari-hari biasanya. Aktivitas di luar rumah tersebut juga harus dibarengi dengan kesadaran untuk menjalankan protokol kesehatan.

Era Generasi Muda

“Ini era anak muda, era kaum milenial. Mereka yang akan menentukan nasib bangsa ke depan. Mereka harus melek digital.” begitu pernyataan Achmad Rizal, Direktur Re-Industrialisasi Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB). Peran anak muda akan sangat memengaruhi keberlangsungan dan kemajuan bangsa ini. Apalagi Indonesia akan memasuki bonus demografi, di saat angka usia produktif menjadi dua kali lebih banyak dibanding yang tidak produktif.

Meskipun bonus demografi bisa menjadi salah satu kekuatan besar bagi bangsa Indonesia, maka tetap harus diimbangi dengan kualitas yang mumpuni. Pemanfaatan fenomena ini bisa diperkuat jika kita melakukan transformasi digital. Keahlian pada bidang teknologi digital akan menjadi modal untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Sehingga harapanya, Generasi Milenial mampu beradaptasi dengan dunia digital dan semakin tanggap dalam mempersiapkan digitalisasi untuk keberlangsungan hidup di masa yang akan datang.

Kondisi negara yang sedang mengalami pandemi coronavirus ini memberikan peluang lebih besar dalam pembiasaan transformasi digital. Himbauan agar tidak bergantung dengan kehidupan dunia maya berubah di kala pandemi. Justru di saat seperti ini, pemanfaatan internet, khususnya media sosial seakan-akan menjadi segalanya. Aktivitas sekolah, bekerja, mengabari teman atau keluarga, bahkan transaksi ekonomi tidak harus dilakukan secara tatap muka. Aktivitas tersebut tetap bisa berjalan dengan maksimal dengan pemanfaatan teknologi seperti gawai, laptop, akses internet, dll.

Pembelajaran yang dilakukan secara daring, seharusnya memberikan ruang yang lebih bebas dan seluas-luasnya kepada pelajar untuk mengembangkan dan mengeksplor minat bakatnya. Cukup banyak platform yang bisa membantu dan menjadi wadah untuk menggali potensi diri. Hal itu juga memberikan tantangan bagi siswa untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman, memperluas relasi, memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitar, bahkan membuat lebih mandiri dari sisi ekonomi (misalnya, dari hasil penjualan secara online).

Apabila kita tidak bisa berada di garda terdepan membantu para tenaga medis yang harus berhadapan langsung dengan penderita COVID-19, setidaknya kaum milenial turut meringankan beban mereka dengan memanfaatkan digitalisasi. Mengapa harus milenial? karena generasi ini memiliki pemikiran yang jauh lebih terbuka, senang mempelajari hal-hal baru, lebih akrab dengan teknologi, dan Generasi Mileniallah yang akan menjadi motor penggerak perubahan bagi bangsa di masa depan.

Peran Milenial Terhadap Pandemi

Merebaknya pandemi telah memberikan dampak yang luar biasa pada sendi-sendi kehidupan. Kebebasan menjadi hal yang mahal. Kebersamaan menjadi hilang. Pertemanan menjadi berjarak. Bahkan kegiatan religius pun harus penuh dengan toleransi. Namun, bukan berarti kita menjadi mati langkah atau mati gaya. Masih banyak yang bisa dieksplor dalam keterbatasan ini. Dengan memanfaatkan teknologi, generasi muda bisa memberikan berbagai kontribusi, seperti:

· Beraktivitas di rumah, dengan memanfaatkan teknologi yang ada dengan maksimal. Bila terpaksa harus melakukan kegiatan di luar rumah, maka hendaknya tetap patuh dan tunduk pada protokol kesehatan (generasi muda/kaum milenial harus bisa menjadi contoh bagi masyarakat).

· Membantu memberi edukasi, himbauan, dan mengkampanyekan kepada masyarakat, bahwa COVID-19 adalah sebuah permasalahan yang serius. Hal ini bisa kita sampaikan melalui postingan di media sosial, atau secara langsung kepada keluarga dan kerabat.

· Mengikuti berbagai pelatihan atau webinar secara daring. Dengan demikian, kita dapat menemukan, menekuni, dan mengembangkan bakat yang dimiliki.

· Memulai bisnis online bisa menjadi pilihan bagi milenial saat pandemi. Masa ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk menjadi seorang technopreneur, di samping juga bisa menghasilkan uang dan menambah pengalaman. Kesempatan begitu terbuka lebar dengan bantuan berbagai platform. (Misalnya, dengan mempromosikan bisnis melalui media sosial atau didaftarkan ke ­e-commerce seperti Tokopedia, Lazada, Shopee, dsb. Pengiriman pun juga dipermudah dengan adanya berbagai kurir dan ekspedisi yang menawarkan pelayanan pengambilan ke rumah).

· Berpartisipasi dalam berbagai lomba juga tidak kalah menarik. Banyak sekali pihak yang menyelenggarakan kompetisi secara daring dan bisa diikuti oleh para milenial meskipun dari rumah. Kegiatan seperti ini tentu akan menambah wawasan, pengalaman, bahkan mendapatkan bonus berupa hadiah. Tunjukkan bahwa pandemi bukanlah alasan untuk tidak berprestasi.

· Menjadi content creator juga bisa menjadi alternatif lain di era digitalisasi. Platform yang bisa digunakan pun beragam. Generasi Milenial pasti tahu, bahwa kini, penghasilan seorang content creator tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain menghibur, menjadi content creator di masa pandemi ternyata banyak memberikan manfaat karena kita dapat menyelipkan edukasi terkait COVID-19 dalam konten yang dibuat.

· Ikut menyumbang dana melalui platform yang bisa digunakan untuk penggalangan. Donasi ini bisa ditujukan untuk membantu penanganan COVID-19, seperti membeli alat pelindung diri, masker, dan obat-obatan.

Generasi muda, harus pandai melihat peluang dan turut berkontribusi secara positif untuk memutus rantai penyebaran coronavirus. Jika kita melihat sisi positif bencana ini dan mampu berpikir kreatif, maka pandemi dapat membuka banyak kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Tak hanya itu, pandemi bisa meningkatkan kemampuan, daya juang, pola pikir, dan kesiapan kita dalam menghadapi tantangan yang lebih kompleks di masa yang akan datang. Kita pun menjadi generasi yang bisa survive di mana saja, dan kapan saja.

Tidak ada yang tahu kapan pandemi akan benar-benar berakhir. Namun yang perlu disadari adalah pandemi bisa dijadikan suatu pijakan baru untuk menerapkan kebiasaan pada revolusi industri 4.0 yang akan datang, saat semuanya akan berbasis digital. Pembiasaan dekat dan akrab dengan digital akan menghindarkan dari culture shock dan ketertinggalan zaman. Mulailah dari hal yang kecil dan terdekat. Belajar untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dalam masa pandemi.

Perkembangan zaman akan selalu menuntut kita agar beradaptasi dengan dunia yang demikian canggih. Dan melalui digitalisasi, generasi muda/milenial diajak untuk belajar hal-hal baru, senantiasa memberi energi positif terhadap sekitar, dan tidak menyerah dalam situasi apa pun. Bertransformasi Digital, Generasi Milenial Indonesia siap menghadapi tantangan masa depan!

Bersinergi dalam pandemi

Menjadi generasi akrab digital

dari milenial; untuk Indonesia

--

--

Adelia Hasna Nabilla

Ini adalah Ruang Perspektif; menyapa, berdiskusi, bercerita. Semoga bisa menyembuhkan hati dan jiwa yang patah tak terarah.