Dua Tahun; Berandai–

Adelia Hasna Nabilla
2 min readNov 18, 2020

Berdamai dengan diri sendiri; Memaafkan jarak, melepas banyak harap.

Kalau dipaksa bercerita, aku yakin bisa menceritakannya dengan lantang — semua masih terekam jelas — bagaimana kejadian malam itu. Mengakhiri apa-apa yang sudah dibangun selama tiga tahun terakhir. Malam itu tidak lagi menjadi syahdu seperti hari-hari sebelumnya. Mi instan yang tengah kunikmati mendadak tak seenak biasanya. Kamu tahu? Ada banyak sekali hal yang ternyata belum benar-benar selesai. Bahkan hingga kini, aku pun masih belum mengerti motif rencana di balik semua yang kau hendaki untuk terjadi. Samar. Tidak pandai menerka-nerka.

Dua tahun, Rama.

Sudah dua tahun sejak malam dimana semuanya selesai. Dan sudah dua tahun juga aku menjalani hari-hari dengan penuh keanehan tanpa hadirmu. Ternyata cuma kamu yang bisa bikin aku luluh tanpa tapi. Kamu tahu kan, mempersilakanmu masuk ke hidupku adalah sebuah keputusan hebat yang penah aku ciptakan dalam hidup. Sesulit itu, Rama. Dan sampai hari ini, namamu masih saja bertahta; satu-satunya nama.

Aku pikir dengan menuruti permintaanmu untuk beralih dan berpaling akan membuatku semakin jauh. Tapi ternyata salah, aku malah melukai hati yang lain. Rasanya seperti hanya memberi raga; tidak sepaket dengan hatinya. Terlalu berat, Rama. Ternyata aku belum bisa. Percuma memeluk yang lain tapi yang terasa masih hangat dan bau parfum kesukaanmu.

Setiap ingat kamu, aku mendadak ingin menjadi ahli pembuat kata. Akan ku musnahkan kata jarak dalam kamus bahasa. Dan kalau itu berhasil, pasti malam ini kita masih berbincang; memperdebatkan banyak hal; tertawa, sampai ketiduran.

Aku juga mendadak suka berandai-andai. Kadang aku membayangkan kalau tiba-tiba saja kita bertemu di suatu tempat, kemudian saling berpandang seperti yang tejadi di film buatanmu, atau cerita romansa yang biasa ku tulis di kala senggang.

Kita adalah dua kepala yang penuh pemikiran hebat. Kita adalah dua telinga yang tak pernah bosan mendengar. Kita adalah dua pasang mata yang ingin saling memandang. Kita adalah dua orang penuh rencana yang lebih baik berdua.

Kamu terlalu sempurna jika harus berjalan sendiri, Rama.

Kamu terlalu keras kepala untuk menghadapi diri kamu sendiri.

Dan semenjak tidak bersama kamu, aku jadi semakin menguasai diri sendiri.

Padahal aku tahu, bahwa hidup memang harus dibagi-bagi.

--

--

Adelia Hasna Nabilla

Ini adalah Ruang Perspektif; menyapa, berdiskusi, bercerita. Semoga bisa menyembuhkan hati dan jiwa yang patah tak terarah.