Hitam Putih; Cerita Tentang Es Krim-

Adelia Hasna Nabilla
2 min readNov 27, 2020

Silih berganti, datang dan pergi. Manismu manisku masih tertuju satu, pada es krim di kedai itu; putih dengan kepingan hitam, favorit kita berdua.

Rasanya seperti baru kemarin kita mengantri lama sambil bersandar pada dinding yang anyep itu. Senyum dan tawa kecil kerap terbentuk, turut menghiasi koma di setiap ceritaku. Bola matamu terus berbinar, tak sedikit pun berhenti menatap. Dan kamu, selalu berhasil membuat jatuh hati; berkali-kali.

Siapa sangka, menunggu antrian panjang hanya demi dua gelas es krim bersamamu ternyata menjadi ‘penantian’ paling menyenangkan. Aku yang tak suka menunggu dibuat larut dalam setiap mimpi yang kau ceritakan. Apalagi, es krim yang kita pesan itu adalah es krim pertama yang ku nikmati bersamamu. Hitam putih warnanya, persis seperti hari-hariku saat bersamamu; putih pada awalnya, terus berproses, menikmati tiap keping hitam yang bertabur di sekitarnya.

Lucu sekali ya?, ternyata hidup bisa sama seperti es krim. Akan sulit sekali jika harus dijelaskan. Tapi yang jelas, taburan keping hitam itu bisa diumpamakan sebagai cerita dengan segala lika-likunya. Ada yang sekali dikunyah langsung hancur, ada juga yang belum; butuh usaha lebih untuk menikmatinya. Sama seperti masalah, mulai dari berantem kecil-kecilan, sampai berani memblokir akses kontak juga pernah (haha, ternyata kita termasuk remaja alay pada masanya ya?).

Pun dari es krim kita belajar, bahwa warna putih menggambarkan kita yang menyatu tanpa pijakan atau bekal apapun. Putih, bersih, dan masih sangat manis. Lain cerita saat kepingan hitam sudah tertabur. Tidak lagi sepenuhnya manis, tapi inilah yang membuatnya menjadi padu. Persis seperti skenario yang kerap kita lakoni, satu per satu, di setiap pembabakannya.

Selagi itu bersamamu, hitam putih tak pernah sedikit pun terasa kaku. Malya yang keras kepala ini masih terus ingin dibersamakan dengan Rama yang begitu meluluhkan. Bahkan semesta juga bilang, kalau Ia sampai tak sanggup berdalih. Rama adalah atmosfer penuh keajaiban. Malya adalah pelukan hangat melodinya.

Penyatuan Malya dan Rama bagai dua senandika; antologi paling menakjubkan — yang terlanjur bertemu — menjadi satu. Pelangi seakan-akan enggan tenggelam dari bola mata; bersembunyi; menerka; seraya berkata “begini terus ya, sampai nanti.”

Terima kasih ya, sudah membuatku luluh segitu dalamnya. Sampai turut mencintai aksara, tengok, langkah, bahkan sayup lelahmu. Sampai jumpa di lain waktu; saling bicara, menikmati es krim yang sama, memperjelas semuanya.

Dan kalau memang diberi izin untuk kembali menggenggam; maka bolehkah ku temani hingga dapat meraih segala rencana hebat yang kau ciptakan itu, lagi?

--

--

Adelia Hasna Nabilla

Ini adalah Ruang Perspektif; menyapa, berdiskusi, bercerita. Semoga bisa menyembuhkan hati dan jiwa yang patah tak terarah.