Pesan Telah Sampai: Malya dan Rama Pamit

Adelia Hasna Nabilla
3 min readFeb 15, 2021

--

“Tuhan, terima kasih. Iya, benar ini yang aku mau.”

Menembus 1592 km. Dan inilah akhir dari pesan yang kerap kali lantang digaungkan itu, —

Tak kunjung pandai dalam mengungkap rasa, tulisan pun menjadi satu-satunya jalan untukku bercerita. Kata demi kata, aku mendapati jutaan tanya tentang siapa yang hendak dituju itu. Dan dalam kurun waktu tiga bulan saja, aku berhasil menceritakan isi hati yang selama tiga tahun terakhir ini hancur berantakan.

Tanpa berharap apa-apa, aku tetap menulisnya pakai hati. Lewat cerita ini, aku berusaha jujur atas apa yang sudah terjadi. Meski banyak sekali pergulatan batin bahkan tangis yang harus kembali tumpah, tapi rasanya memang cuma ini cara yang paling tepat. Entah diterima atau tidak, yang jelas aku hanya ingin bercerita dan berusaha meyakinkan diri bahwa doa akan terjawab, nanti pada waktunya.

Kamu. Abhista Rama.

Mengakar, menjadi satu-satunya nama.

Bagaimana mungkin aku akan ‘berhasil’ menyamakan irama dengan yang lain bila bayangmu masih seringkali menghantui. Bagaimana cukup tiga tahun dipakai untuk melupa jika notifmu masih saja muncul di jam-jam rawan. Aku juga capek dibuat bingung tanpa adanya kejelasan yang pasti dari mulutmu itu. Kamu pikir datang dan pergi seenaknya bisa membuatku tidak merasa kehilanganmu? enggak Rama, kamu salah.

“Nggak usah pura-pura nggak tahu, kamu dichat lagi kan? yaudah balikan, Mal. Sekarang kamu udah dapetin apa yang kamu mau kan? Jangan ditahan, kesempatan nggak akan datang dua kali, aku nggak papa kok. Lebih baik sekarang daripada harus menahan lebih lama lagi.”

Cuma orang bodoh yang mau nungguin kamu sebegini kuatnya. Cuma orang nggak tau diri yang tega nyia-nyian orang sebaik Saka karena masih penasaran dengan orang sekeras kepala kamu.

Tapi Tuhan itu baik. Aku dikasih kesempatan untuk bertemu Saka yang membuatku melihat cermin. Ia mengajarkan banyak hal. Katanya, hidup nggak selalu tentang ambisi, tapi juga bagaimana kita harus tetap merasa senang meski sedang dihantam bumi. Dari Saka aku juga belajar bahwa hidup memang harus saling melengkapi. Kita nggak bisa kalau harus dibersamakan dengan orang yang kebiasaan dari bangun sampai tidurnya sama persis.

Kalau kata Nadin, hidup berjalan seperti bajingan. Ya iya, bagaimana mungkin orang seperti Saka hanya diizinkan menjadi pelabuhan?

Di sisi lain, aku pun semakin sadar bahwa cinta memang nggak pernah mau disalahkan. Nggak bisa juga dipaksa buat tiba-tiba berhenti. Ada orang yang cepat mengikhlaskan, ada orang yang gampang melupakan, ada pula yang gampang menemukan. Tapi semua ini nggak berlaku bagiku. Padahal yang namanya cinta ya nggak harus memiliki, duh anjay klasik.

Najwa Shihab juga pernah angkat bicara bahwa masalah cinta jangan pernah mencari pembenarannya di otak, nggak akan pernah ketemu. Carinya tuh di hati. Dan selama berada di perjalanan — transisi — menenangkan hati, aku jadi semakin berusaha memantaskan diri. Aku paham betul bahwa proses seorang Rama tidak akan bisa terkejar kalau aku masih saja meratapi perpisahan yang aku sendiri juga nggak pernah tahu kapan akan berakhir. Pun tak lupa aku juga berserah, menaruh harap cemas agar kita bisa cepat dipersatukan lagi.

Sampai pada akhirnya, tepat 88 hari setelah cerita ini dibagikan, 3 project berhasil terselesaikan, mencapai angka 1000x pendengar, 250+ penggemar, 50+ repost, 40+ ulasan, dan masih banyak ketidak sengajaan lainnya, kamu pun datang.

Ya. Kamu, akhirnya datang.

“Aku sudah membaca sebagian tulisanmu, aku harap ini belum terlambat.”

‘Terlambat untuk apa?”

“Menentukan akhir dari penantian ini.”

“uhm?”

“Selamat tanggal 15. Aku ingin kita berlayar lagi.”

--

--

Adelia Hasna Nabilla

Ini adalah Ruang Perspektif; menyapa, berdiskusi, bercerita. Semoga bisa menyembuhkan hati dan jiwa yang patah tak terarah.