Relief Candi Prambanan : Remedi Wiracarita Milik Ramayana

Adelia Hasna Nabilla
4 min readOct 4, 2020

“Berterima kasihlah pada segala yang memberi kehidupan,” –Pramoedya Ananta Toer

Sekiranya begitu yang pernah dikatakan oleh salah seorang penulis legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Segala yang memberi kehidupan, kesempatan, kebebasanmu di hari ini; tak terlepas dari sejarah yang membentuk kehidupan. Maka demikian, biarlah Ia menjadi saksi tentang apa yang pernah dilalui hingga bisa sampai ke hari ini.

Dilansir dari Wikipedia, Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia dan salah satu candi terindah di Asia Tengggara yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Sesuai namanya, kompleks candi yang termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO ini terletak di Kecamatan Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Letaknya sangat unik, Candi Prambanan terletak di wilayah administrasi Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, sedangkan pintu masuk kompleks Candi Prambanan terletak di wilayah adminstrasi Desa Tlogo, Prambanan, Klaten. Arsitekturnya berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama dengan tinggi 47 meter, menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil.

Tentang Nama dan Kisah Pembentuknya |Bangunan megah ini identik dengan kisah legenda Roro Jonggrang meminta seribu candi dalam satu malam sebagai syarat lamaran Bandung Bondowoso. Melalui bantuan mahluk jin, Bandung Bondowoso mampu menyelesaikan seribu candi yang pada akhirnya digagalkan sendiri oleh Rara Jonggrang. Namun, untuk sejarah asli Candi Prambanan sangat berbeda. Candi Prambanan dibangun oleh Rakai Pikatan yang saat itu adalah Raja dari Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya. Pembangunannya sendiri dimulai pada tahun 850, yang mana dekat dengan waktu pembangunan Borobudur.

Ditilik dari sejarah asli Candi Prambanan, patung yang konon disebut sebagai patung Rara Jonggrang tersebut sebenarnya adalah patung dari Dewi Durga Mahisasuramardhani yang menurut mitos juga dipercaya sebagai jelmaan dari Rara Jonggrang. Karena ituah, salah satu dari Candi Siwa yang berada di Prambanan disebut sebagai Candi Rara Jonggrang.

Candi Prambanan mengambil banyak Kosmologi Hindu, terutama dewa-dewa yang disimbolkan berada dalam setiap candi, termasuk Candi Rara Jonggrang itu sendiri. Terdapat tiga bagian utama dari Candi Prambanan ini yakni Plataran Njobo, Plataran Tengahan dan Plataran Njero. Tiga candi utama yang menyimbolkan tiga dewa utama dalam Agama Hindu berada di Plataran Njero yang mana menyimbolkan tempat kehidupan dimana dewa-dewi tinggal atau yang dikenal sebagai Svargaloka. Semua ini diceritakan melalui relief-relief yang terkir pada dinding-dinding candi. Sebagaimana menjadi suatu peninggalan tersendiri bagi kita, bahwa sejarah itu memang benar adanya.

Seni Mengukir Keabadian | Salah satu komponen candi yang mencolok dan sering menjadi perhatian adalah relief. Relief adalah gambar yang dipahat di suatu media sehingga menjadi timbul. Relief dapat dilihat pada candi-candi yang tersebar di Indonesia. Pada relief, biasanya menggambarkan sosok manusia, hewan, tumbuhan, dan motif-motif lainnya. Relief terbagi menjadi dua jenis, yaitu relief cerita dan relief non cerita.

Relief cerita biasanya menggambarkan suatu cerita pada panil di dinding candi. Selain menjadi hiasan pada bangunan candi, relief cerita juga dibuat untuk menyampaikan pesan kebaikan atau ajaran-ajaran agama secara menarik. Selain cerita dengan tokoh utama manusia, relief juga menyajikan cerita dengan tokoh utama hewan. Cerita-cerita yang disajikan relief merupakan kisah-kisah yang berasal dari kitab-kitab sastra. Kisah yang menceritakan tentang seorang tokoh yang hebat, seperti kisah Ramayana.

Cerita epik Ramayana dan Krisnayana dipahatkan di dinding tubuh candi Prambanan dalam bentuk relief yang bernilai seni sangat tinggi, baik di Candi Siwa, Candi Brahma, dan Candi Wisnu. Prabu Rama dari Ayodya melawan Dasamuka atau Rahwana dari Alengka, dan Prabu Krisna dari Dwaraka mengalahkan Kamsa. Wisnu sebagai dewa pemelihara turun ke dunia ke dalam sepuluh bentuk atau dasa awatara untuk mengenyahkan angkara murka di dunia. Awatara Wisnu Ramayana muncul saat zaman Tretayuga yaitu kondisi negara dalam keadaan penuh gejolak dan kejahatan ada di mana-mana yang mengancam manusia. Krisnayana adalah inkarnasi Dewa Wisnu menjadi Prabu Krisna. Awatara ini muncul saat kondisi zaman Dwaparayuga. Kondisi ini ditandai dengan mulai merebaknya kelicikan dan kebohongan, banyak orang lebih mengutamakan ritus.

Ajaran Moral di Balik Relief Candi Prambanan | Relief menjadi salah satu komponen yang membuat candi terlihat lebih indah. Relief pada candi terbagi menjadi dua jenis, yaitu relief cerita dan relief non cerita. Adanya relief cerita ini digunakan untuk menyampaikan ajaran kebaikan dengan cara yang menarik. Kisah-kisah yang ada pada relief menceritakan tentang tokoh-tokoh yang ada pada kitab sastra atau kisah hewan. Kisah-kisah pada relief cerita ini menceritakan tentang kisah-kisah yang memberikan nilai kebaikan yang dapat kita pahami dan terapkan hingga sekarang.

Dalam cerita epik Ramayana dan Krisnayana diteguhkan bahwa kebaikan akan dapat mengalahkan kegelapan dan nafsu jahat yang menghancurkan. Inspirasi pentingnya bahwa upaya mewujudkan kebaikan tidak pernah hadir begitu saja namun harus melalui proses waktu, tekad bersama, konsensus bersama, itikad baik, integritas, tidak pantang menyerah, dan landasan spiritualitas. Didedikasikan untuk memberantas nafsu dunia yang berupa angkara murka dan kejahatan. Pertarungan kejahatan dan kebaikan muncul ke dalam berbagai konfigurasi dan intensitasnya. Upaya memberantas kejahatan dan angkara murka sebagaimana digambarkan dalam cerita Ramayana dan Krisnayana membutuhkan soliditas, beragam cara, dan partisipasi semua pihak.

Relief yang terukir juga menjadi daya tarik tersendiri untuk masyarakat yang berkunjung ke candi tersebut di masa kini. Sehingga, ukiran cerita di dalamnya akan abadi; tidak lekang oleh waktu, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

--

--

Adelia Hasna Nabilla

Ini adalah Ruang Perspektif; menyapa, berdiskusi, bercerita. Semoga bisa menyembuhkan hati dan jiwa yang patah tak terarah.